
Sumber : https://www.spaceworks.aero/a-new-era-for-orbital-debris-policy/
Tahukah kalian? Sejak satelit pertama diluncurkan pada tahun 1958, banyak pihak yang secara tidak langsung dan perlahan-lahan merusak serta mengotori ‘lingkungan’ luar angkasa dengan berbagai hal, seperti puing-puing roket, pesawat antariksa yang sudah tidak beroperasi lagi, dan puing-puing wahana antariksa lainnya. Nah, hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk misi penerbangan luar angkasa ke depannya.
Diperkirakan hingga saat ini sekitar lebih dari 20.000 puing sampah luar angkasa yang terdeteksi di orbit. Sayangnya, jumlah ini masih belum termasuk dengan jumlah serpihan sampah luar angkasa yang berukuran sangat kecil yang mana sangat sulit untuk dideteksi bahkan dengan alat pendeteksi canggih sekalipun. Beberapa pihak memperkirakan sebenarnya terdapat 10 juta serpihan sampah luar angkasa berukuran kecil yang mengorbit hingga saat ini. Hal yang paling dikhawatirkan adalah, walaupun serpihan sampah luar angkasa ini sangat kecil, namun dapat menimbulkan bencana besar apabila serpihan tersebut saling bertabrakan ataupun jatuh ke bumi.
Banyak pihak yang khawatir dengan peningkatan jumlah sampah luar angkasa yang ada di orbit karena dapat menimbulkan banyaknya bencana tabrakan antar serpihan space debris ini. Asumsikan jika serpihan space debris mengorbit di orbit LEO yang ketinggiannya sekitar 100km dari permukaan bumi, jarak ini sama dengan jarak antara New York dan Philadelphia, atau di orbit MEO yang ketinggiannya sekitar 250km dari permukaan bumi, ataupun di orbit GEO yang ketinggiannya sekitar 5000km dari permukaan bumi atau sama dengan jarak antara New York dengan Stonehenge.

Sumber : https://www.spaceworks.aero/a-new-era-for-orbital-debris-policy/
Apabila tabrakan antara space debris terjadi di orbit LEO maka hal ini cukup membahayakan mengingat jaraknya sekitar 100 km dari permukaan bumi, mungkin jarak 100 km memang terdengar cukup jauh, tapi perlu diketahui bahwa serpihan space debris jatuh ke bumi dengan kecepatan kurang lebih 20.000 mph, yang berarti hanya butuh waktu singkat untuk serpihan tersebut menumbuk bumi. Selain itu, hal yang paling dikhawatirkan dari tabrakan antar serpihan space debris adalah apabila terjadi sebuah tabrakan, tabrakan tersebut dapat menyebabkan tabrakan space debris beruntun lainnya, hal ini disebut sebagai Cascade Effect (Kessler Syndrome). Salah satu dampak yang dihasilkan dari terjadinya tabrakan antar space debris adalah terciptanya puing-puing kecil yang lebih banyak lagi.
Pada awal 1980-an, National Space Policy memberikan intruksi kepada lembaga pemerintahan dan sector swasta yang terkait dengan permasalahan ini untuk dapat meminimalisir peningkatan space debris.

Sumber : https://www.spaceworks.aero/a-new-era-for-orbital-debris-policy/
Lalu pada akhir 2000-an ditetapkan The 25-year rule for Low Earth orbit postmission disposal yang mana satelit harus dirancang agar dapat hancur dalam kurun waktu 25 tahun. Selain itu, para legislator juga berencana agar ke depannya dapat fokus terhadap debris removal dengan cara menyingkirkan serpihan yang lebih besar terlebih dahulu mengingat bahwa serpihan space debris dengan ukuran besar memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap fenomena Cascade Effect.
Jadi, sudah tahukah kalian mengenai bahayanya Space Debris dan bagaimana regulasi yang diciptakan untuk mengatasi permasalahan tersebut? Segitu dulu yah dari kami.
Referensi : https://www.spaceworks.aero/a-new-era-for-orbital-debris-policy/
Laboratorium Nanosatellite
14 – 02 – 2020
Author : Shindi M Oktaviani
#SalamMengangkasa